Januari 11, 2019

Mengulik Estetika Sanggar Anak Alam (SALAM): Sekolah Tanpa Tanpa Seragam, Tanpa Guru, Tanpa Mata Pelajaran

by , in

 oleh : PSP





“Jagad raya, laboratorium bagi pembelajar yang serba ingin tahu.”

Begitulah slogan dari SALAM (Sangar Anak Alam) yang terletak di Nitiprayan, Yogyakarta ini. Sekolah yang didirikan di tengah area persawahan ini telah ada sejak tahun 2000. SALAM berbeda dengan sekolah formal maupun nonformal kebanyakan, sekolah ini memiliki kurikulumnya sendiri, yakni Kurikulum Berbasis Riset. Maka tidak heran, jika sekolah yang diprakarsai oleh Ibu Sri Wahyaningsih atau yang akrab disapa Bu Wahya ini memiliki metode dan sistem pendidikan yang khas. Menurut penuturan Bu Wahya melalui diskusi istimewa dalam FORDIKA (Forum Diskusi dan Karya) #5 yang diselenggarakan HIMA PGSD Kampus III pada Kamis, 20 Desember 2018 di Ruang Abdullah Sigit FIP UNY lalu menuturkan bahwa SALAM adalah sekolah yang berorientasi pada pengembangan bakat alamiah anak. Beliau menjelaskan lebih lanjut bahwa setiap anak terlahir di dunia ini sebagai seorang individu yang khas dengan bakat alamiah yang beragam. Itulah mengapa di SALAM tidak ada seragam, karena setiap anak itu berbeda. Seragam adalah upaya untuk menyeragamkan apa yang seharusnya memang beragam. Demikianlah SALAM hadir untuk memfasilitasi pengembangan bakat dan minat alamiah serta mengapresiasi keberagaman setiap anak.  
Kurikulum berbasis riset yang dikembangkan di SALAM artinya setiap siswa (anak didik SALAM) diberikan kesempatan yang seluas-luasnya untuk menemukan sendiri apa yang dipelajarinya melalui riset sederhana hingga riset yang lebih kompleks. Anak-anak akan diawasi oleh fasilitator (bukan guru) selama pengembangan risetnya. Menurut Bu Wahya, dengan riset anak-anak dapat memiliki pemikiran dan solusi yang kritis serta kreatif.
Selain tidak berseragam dan tidak memiliki guru, SALAM juga tidak menganut sistem mata pelajaran. Melalui riset, anak-anak dibebaskan untuk memilih sendiri topiknya, tidak ada pengetahuan yang dipaksakan. Hasil dari pada riset itu pun kerap kali dipamerkan, bahkan jika itu merupakan produk ekonomis, telah banyak yang dijual sehingga anak-anak memiliki penghasilan sendiri. Mata pelajaran justru dianggap sebagai pembatas anak-anak dalam mengeksplorasi pengetahuan di alam raya ini.
Sekolah unik ini pun tidak semata-mata berorientasi pada profit, melainkan mewujudkan tujuan dari didirikannya sekolah ini, yakni memperbaiki pendidikan anak-anak, khususnya dari kalangan kurang mampu. Oleh karena itu, SALAM sama sekali tidak memasang tariff yang mahal, justru sangat terjangkau, tidak seperti sekolah nonformal pada umumnya. Itulah salah satu alasan mengapa SALAM hingga kini belum berkeinginan untuk mendirikan cabang di tempat lain. Selaku pendiri, Bu Wahya menyatakan bahwa ia khawatir keorisinalan dari SALAM dapat hilang jika memiliki cabang.
SALAM meyakini bahwa setiap anak lahir dengan bakat alaminya. Alam adalah sekolah terbaik untuk anak-anak tumbuh dan belajar. Dengan semangat humanistik inilah, SALAM terus maju dan berkembang untuk mewujudkan mimpinya mencerdaskan generasi bangsa dengan mengembangkan bakat dan minat yang dimilikinya.