Januari 11, 2023

APARTEMEN UNIT 23 (Karya Oktavian Budi Sulistyanto)

by , in

 APARTEMEN UNIT 23


Penulis : Oktavian Budi Sulistyanto

Kelas F Pendidikan Guru Sekolah Dasar

Andi mengajak Rani pindah ke apartemen yang baru, karena ada sengketa tanah di apartemen lamanya. Lokasinya pun tidak jauh dari sekolah Rani dan tempat kerja Andi. Andi menjadi tulang punggung Rani selepas kedua orang tuanya meninggal. Walau tinggal bersama, Andi sering kali pulang malam karena sibuk mengurusi pekerjaan di kantornya. Di apartemen baru mereka tinggal di lantai empat unit 23. Tiap lantai apartemen hanya berisi lima unit. Pemandangan di lobi ini sudah akrab dengan Rani, dan kian hari kian menyejukkan. Lantai berwarna krem berpola daun hijau muda. Di dinding sebelah kanan tergantung lukisan klasik Eropa. Pintu kedua lift berwarna perak dan simbol-simbol panah di tombol sudah mulai memudar. Rani capek setelah mengerjakan tugas kelompok di sekolah sampai sore, sehingga saat ini ia hanya ingin cepat mandi dan beristirahat. “Pak”, Rani menoleh ke arah satpam, “lift masih diperbaiki?” “Besok pagi diusahakan beres. Maaf ya, Non” Kata satpam sambil memperbaiki lift. “Betul ya, besok pagi?” Sahut bapak yang duduk dikursi melingkar. “Ya pak tinggal sedikit lagi, petugas reparasinya juga akan datang lebih awal.” Bapak itu menggerutu “Kalo bisa sebelum orang-orang berangkat kerja.” Ponsel Rani bergetar, dan ia mengeluarkannya dari saku. SMS dari Andi, sepertinya Rani makan malam sendiri lagi karena Andi pulang larut malam. Rani berjalan menuju tangga, pintu tangga berat sekali sampai Rani agak terengah saat mendorongnya. “Apartemen payah” Ujarnya. “Harga sewa masuk akal, satpam disiplin, tapi pintu dan lift sering macet.” Rani kesal karena capek dan harus melewati tangga sampai ke lantai empat. Rani meneruskan langkahnya. Pundak dan kaki Rani sudah mulai pegal, masih harus naik ke lantai empat. Pindah ke apartemen ini bukan ide Rani, walau harus diakui lokasinya strategis. Lebih dekat ke sekolahnya sekaligus tempat kerja Andi. Andi memutuskan pindah ke apartemen ini gara-gara apartemen lama mereka terlibat sengketa kepemilikan tanah dikabarkan media. Unit 22, persis di sebelah unit Rani. Belum pernah kelihatan penghuninya, walau dari sana terdengar dentuman musik rock. Rani menggemgam gagang pintu unit, dan dari bak sampah terdengar suara kemerisik. Perhatian Rani beralih ke arah bak sampah. Plastik hitam sudah tidak melapisi pinggiran bak, seperrti ada yang membenamnya. Rani pikir itu ulah tikus. Tanpa menunda-nunda, Rani menarik gagang pintu dan masuk ke dalam unit. Unit apartemen ini memang lebih luas dibanding unit apartemen yang dulu. Malam ini Andi tidak makan malam bersama. Berarti, Rani tidak perlu menyiapkan hidangan dan cukup makan nasi bungkus yang ia beli di jalan. Rani menanggalkan sepatu dan kaus kaki, lalu menyalakan lampu. Setelah mandi, ia merebus air untuk menyeduh teh. Sambil menunggu air mendidih, Rani membaca novel yang ia beli sepekan yang lalu. Teh panas selalu membuat badan terasa rileks dan membuat tidur nyenyak. Ditambah dinding dan tirai berwarna hijau muda membuat kesan nyaman. APARTEMEN BARU 2 Ponselnya berdering. “Baru makan malam?” Tanya Andi dari telepon di tempat kerjanya. “Nggak, capek, mau langsung tidur. Gimana pekerjaan kakak?” “lumayan melelahkan dari hari sebelumnya” 3 Obrolan mereka singkat, diakhiri pesan Andi agar Rani tidak lupa mengunci pintu. Rani menuangkan air yang mendidih dan mencelupkan teh di gelasnya. Pintu unit diketuk perlahan. Ia menunggu tetapi tidak ada ketukan susulan. Pikir Rani, mungkin karena kecapekan jadi salah dengar. Tak lama kemudian lampu berkedip satu kali, cukup membuat Rani merinding. Rani bergegas masuk ke kamar. Lamat-lamat didengarnya gesekan dari ruang tengah, seperti ada yang melintas. Sama dengan ketukan tadi, bunyi itu hanya terdengar satu kali. Pagi pun tiba, Laki-laki yang tinggal di unit sebelah menutup pintu dengan keras. Rani terkejut, sampai lupa menyelipkan kunci ke dompetnya. Laki-laki itu berpakaian jas berdasi serta membawa koper hitam seperti orang kantoran. “Kamu dengar itu tadi?” Tanyanya. Rani mengangguk, lalu laki-laki itu datang kepadanya sambil mengulurkan tangan. “Kenalkan nama ku Jonathan, maaf soal tadi karena terburu-buru ke bank untuk bekerja.” “Oh nama ku Rani, iya gak papa.” Rani tersenyum Laki-laki yang tinggal di unit sebelah ternyata bernama Jonathan. Lalu Jonathan bergegas berangkat ke bank . Rani juga bergegas berangkat ke sekolah, karena waktu hampir terlambat. Untung lift sudah diperbaiki, jadi mereka bisa menggunakan lift. Mereka menunggu lift, Rani mengetukkan ujung jari ke dagu. “Lama nih jalannya, pasti belum sepenuhnya diperbaiki.” Rani kesal, waktu hampir terlambat. “Bapak yang suka duduk di kursi melingkar pasti mengomel lagi, kamu tahu kan dia yang mana? Tinggal di unit 18, hobinya mengomel.” sahut Jonathan “Oh, aku ketemu dia kemarin” “Anggap saja angin lewat.” “Ting.” Pintu lift berdenting, mereka berdua masuk ke lift Pada jam istirahat, kelas heboh seperti biasanya. Memanfaatkan waktu sebelum kelas dimulai lagi, Rani selintas memikirkan hal yang terjadi semalam. Beep! Beep! Ponsel berdering, SMS dari Andi mengajak untuk makan bersama sepulang sekolah di restoran favoritnya. Temen sekelas menepuk pundak Rani. Ia menanyakan pekerjaan rumah yang diberikan guru kemarin. Rani menggelengkan kepala karena belum mengerjakan. Bel pulang berbunyi, Rani segera menemui Kakaknya di restoran favoritnya. Andi dan seorang wanita rekan kerjanya sudah menunggu di restoran. Wanita itu tampak anggun, ia tersenyum saat Rani duduk didepannya. Pesanan tiba, tiga porsi bakso dan tiga gelas jus jeruk. Setelah selesai makan, mereka pulang naik mobil Ford tua diantar oleh wanita rekan kerjanya Andi. Sepanjang sore, Rani menonton TV di ruang tengah. Sedangkan Andi membongkar semua kardus kosong. Andi hanya memajang satu lukisan di unit, lukisan bertulis Stay Calm And Carry On. Setelah memajang lukisan, Andi masuk ke kamar. Rani mematikan TV dan mengintip ke lorong. Lorong sama sekali sepi, pasti Jonathan yang menghuni unit sebelah belum pulang. Ia mengunci pintu dan mengerjakan PR di ruang tengah. SUARA 4 Setengah jam kemudian, Rani menguap. Rani membereskan buku dan menuju ke kamar. Waktunya membaringkan badan di kasur. Lalu dari ruang tengah terdengar suara tawa. Bukankah Andi sudah tidur, pikir Rani. Suara tawa itu lagi, seolah berada di depan pintu kamar. Muncul bunyi lain dari dapur seperti suara air mendidih, padahal Rani tidak merebus air. Pikir Rani, pasti itu kakaknya. Tanpa memikirkannya lebih lanjut, Rani tertidur nyenyak. Dua butir telur menjadi menu sarapan pagi ini. Andi merebus telur, menyiapkan bekal Rani, mengisi rice cooker dengan beras dan air. Seperti biasanya sarapannya sederhana. Setelah mandi, Rani menyantap sarapan yang dihidangkan oleh kakaknya. Sepertinya Andi akan pulang larut malam, Rani makan malam sendiri lagi. Andi berangkat ke tempat kerja pagi-pagi sekali, Rani masih menyantap sarapannya. Lalu Rani memakai deodoran dan menyisir rambut. Tasnya bersandar di kaki tempat tidur. Ketika Rani membungkuk mengambil tas, pandangannya beralih ke sisir diatas meja yang baru saja dipakai. Seutas rambut berada di sisir bergagang merah itu. Utas yang panjang, rambutnya melebihi rambur Rani yang hanya sedagu. Rani bertanya-tanya, siapa yang memakai sisir ini setelah dipakai Rani. Seseorang berambut lurus panjang. Ia menatap sisirnya lagi, dan utas rambut itu masih ada. Bulu kuduk Rani merinding, ia segera mengambil bekal roti berselai coklat dan keluar dari unit. Ia mengunci pintu unit, lalu menyelipkan kunci ke dompet. Ia bergegas berangkat ke sekolah. Sepulang sekolah, ketiga meja loby kosong. Maka Rani memanfaatkan kesempatan untuk duduk dan melepas lelah. Ia tidak ingin berburu-buru naik ke lantai yang ditempati unitnya. Pandangannya mengarah ke lukisan replika eropa kuno. Petugas kebersihan sedang membersihkan lampu perak di langit-langit. Beep! Beep! Ponsel Rani berdering, SMS dari Andi. “Mau makan apa sore ini? Biar kakak pesankan,” Rani tersenyum membaca pesan dari kakaknya. “nggak usah kak, Rani goreng telur aja,” Rani membalas pesannya. Rani mengambil langkah berjalan ke lift dan menuju ke unitnya. Setelah masuk ke unit, Rani mengambil handuk dan baju ganti di kamar. Tangan Rani siap menarik gagang pintu kamar mandi saat terdengar bunyi air mengucur. Tidak salah keran di wastafel kamar mandi sedang dinyalakan, tapi siapa yang menyalakan. Kucuran air mengecil sampai mati sama sekali. Kamar mandi kembali senyap, Rani segera menekan tombol lampu dan membuka pintu kamar mandi. Ia masuk ke dalam kamar mandi. Pintu tidak tertutup senditi, keran wastafel tetap mati. Tetapi kaca wastafel berkabut seperti ada uap panas. Padahal apartemen ini tidak ada fasilitas pemanas air. Rani kembali ke ruang tengah, tidak jadi mandi karena takut. Rani tertidur di sofa sampai larut malam hingga Andi pulang. Andi membangunkan Rani dan bertanya. “Rani kenapa kamu belum mandi sampai larut malam?” “Selama disini pernah alami hal-hal aneh gak?” Rani bertanya balik . “Maksudnya aneh?” Andi merasa bingung. “Suara dari tempat yang gak ada orangnya, tanda barang kita habis dipakai orang lain” “Bikin bingung aja, maksudnya ada orang lain di unit ini?” Andi menggelengkan kepalanya. “Nggak, mungkin cuma karena kecapekan.” “Dah mandi sana, biar gak bau” Andi memberikan handuk yang berada disamping Rani 5 Makin dipikir, cerita Rani makin membingungkan. Tawa di ruang tengah dan utas rambut lurus panjang di sisir milik Rani. Setelah mandi, Rani melihat pintu kamar Andi terbuka. Rani melangkah menuju ke kamar kakaknya. Terlihat tirai kamar kakaknya itu separuh terbuka, sebuah sosok muncul dari balik tirai. Sesaat kaki Rani terasa kaku, jarak antara pintu kamar dan tirai jendela tidak terlalu jauh. Sosok itu jelas berambut panjang, orang yang memakai sisir Rani sewaktu itu. Ia menutup mata dan ketika membuka lagi, dibalik jendela Andi kosong. Tidak ada siapa pun di kamarnya. Rani menutup pintu dan berbalik meneruskan langkah menuju ke kamar. Apakah yang dilihatnya benar-benar sosok yang tak terlihat atau hanya halusinasi saja. Pukul lima kurang, Rani terbangun. Terdengar acara pertandingan sepak bola di TV. Ia masih gemetar teringat peristiwa semalam, ia mengintip dari pintu. Andi sedang duduk di ruang tengah. Rani menelan ludah, teringat dengan sosok yang ia lihat semalam. Tidak suara tawa yang muncul, tetapi penampakan sosok yang langsung ia lihat. Rani mencari informasi dari internet, tentang apartemen yang ia tinggali. Tidak ada hasil yang membantu sama sekali. Andai ada yang bisa menjelaskan apa yang terjeadi sebelumnya di apartemen ini. Tentunya lebih efektif Kalau menanyai Jonathan yang tinggal disebelah unitnya. Pagi ini, Rani berniat untuk belanja untuk makan siang. Seratus meter dari sini ada warung yang menyediakan sup ayam. Ditambah es coklat di sebelah warung. Makan siang nanti pasti sangat menyenangkan. Rani berjalan ke arah lift. Dalam hatinya bertanya-tanya, siapa dan apa yang terjadi di apartemen ini sebelum ia pindah ke sini. Ia akan menanyai Jonathan sepulang dari belanja untuk makan siang. Lift tiba di lobi utama, Rani berjalan keluar. Dua bapak-bapak sedang berdiskusi di lobi. Rani mendenar percakapan dua bapak itu. “Nggak membebani kok pak,” kata bapak yang satu lagi. “Silahkan anaknya tinggal disini sampai tenang” Hanya sedikit yang Rani dengar dari percakapan kedua bapak itu. Rani mengeluarkan payung berwarna biru. Ia menyusuri gang di samping gedung apartemen ini. Angin semilir berhembus, Cuaca yang tadinya cerah berubah menjadi mendung. Rani bergegas menuju ke warung yang dituju. Sesampai disana, warung yang dituju ternyata tutup. Ia kesal, makan siang yang diharapkan tidak sesuai dengan kenyataan. Akhirnya Rani kembali ke apartemen. Di lobi apartemen, Rani teringat bahwa mau menanyakan sesuatu kepada Jonathan. Saat tiba di depan unit Jonathan, Rani mendengar suara tawa yang sama. Suara tawa itu berasal dari unitnya. Padahal tidak ada siapapun di unitnya. Ia mengetuk pintu unit Jonathan. “Tok! Tok! Tok!” Jonathan membuka pintu unit. “Hai, ada apa? Silahkan masuk.” Kata Jonathan sambil membawa DVD musik. Mereka duduk di bangku ruang tengah Jonathan. “Aku mau nanya kak, tahu nggak siapa penghuni sebelumnya di apartemen ini atau di unit 23 gitu?” “Itu sih bukan penghuni, Cuma nginap sebentar. Waktu itu ada kejadian tragis di unit 23 yang kamu tinggali saat ini.” “Kejadian apa kak?” Rani penasaran apa yang sebenarnya terjadi “Wanita yang menginap itu bunuh diri” “Hah, Bunuh diri?” SOSOK 6 “Semenjak kejadian itu, tidak ada yang menghuni di unit 23. Kecuali kamu saat ini.” “Kak, wanita yang tinggal di unit 23 sebelum aku umur berapa ya?” “Kurang tahu, yang jelas wanita itu seorang mahasiswi.” “Oh, ya udah terima kasih informasinya kak.” Rani keluar dan melangkah menuju ke unitnya. Rani menanggalkan sepatu, mengambil handuk dan baju ganti. Rani menuju ke kamar mandi. Tiba-tiba lampu mati, suasananya berubah menjadi gelap gulita. Sepertinya terjadi gangguan listrik. Dalam situasi ini, Rani memasang telinga, tapi tidak mendengar apa-apa. Lampu menyala lagi, Rani meminjakkan kaki di kamar mandi. Ia merasa lega, tidak terjadi hal aneh. Saat ia keluar dari kamar mandi, muncul sosok wanita dibelakangnya. Rani merasakan kehadiran seseorang tapi tidak ada pergerakan sama sekali. Ia menoleh kebelakang, dan menjerit. Jonathan mendengar jeritan Rani, Ia segera mendobrak pintu unit milik Rani. Tanpa basa-basi, Jonathan meraih pergelangan tangan Rani. “Ayo.” Jonathan menarik Rani, dan mereka keluar dari unit 23. Mereka lari ke unit sebelah milik Jonathan. Jonathan mengunci pintu mengunci pintu dan menarik Rani agar mengikutinya ke ruangan pribadinya. Tidak ada barang di ruangan itu selain kardus dan meja kerjanya. “Duduk disitu.” Jonathan menunjuk dibalik kardus. “Penjelasannya agak rumit, susah dipercaya.” Tatapan Rani begitu serius. “Belakangan ini, aku mengalami hal-hal yang nggak bisa dipercaya.” “Di dunia ini ada dimensi lain, dunia yang kita diami sehari-hari. Ada makhluk lain bukan manusia, yang tinggal di dimensi lain. Kita hidup berdampingan dengan mereka. Kadang antara dua saling bersinggungan, seperti contohnya sosok wanita tadi.” Penjelasan Jonathan meyakinkan Rani. “Perlu balik lagi ke unit 23?” Tanya Jonathan. “Nggak usah, aku disini aja sampai kakakku pulang.” “Oh iya kak, noleh tanya satu hal?” Rani merasa ketakutan. “Tanya apa?” “Apa kita bisa masuk ke dimensi lain?” “Biasanya kita tinggal di dimensi kita sendiri. Tapi kadang kita bisa terpleset ke dimensi lain, kaya kamu tadi.” “Apa bisa masih bisa pulang kalau masuk ke dimensi lain?” “Bisa, tapi nggak langsung. Sampai kita bisa kembali ke dimensi kita sendiri, biasanya ada hubungannya jika terpleset ke dimensi lain. Dan Cuma diri sendiri yang bisa mencari kunci untuk keluar ke dimensinya sendiri. Mau balik sekarang? Udah larut malam.” “ya udah kak, aku balik ke unit 23. Sebentar lagi juga kakakku pulang.” Bulu kuduk Rani masih merinding. 7 Apa yang salah dengan dirinya, ada keterikatan apa dirinya dengan sosok wanita itu. Rani begitu bingung. Saat ia memasuki unitnya, seluruh ruangan unit gelap gulita. Pintu tibatiba tertutup sendiri. Sepertinya ia berada di dimensi lain. Ternyata Rani terpeleset kedalam dimensi lain. Dari kejauhan, Rani melihat sosok wanita yang sama. Rani menjerit meminta pertolongan. Jonathan mendengar jeritan di diunit 23. Untungnya Andi lewat di depan Jonathan, Jonathan memberi tahu apa yang terjadi kepada Rani. "Siapa itu! Apa mau mu dariku, apakah aku pernah mengusikmu?" ucap Rani yang sedang panik. Sosok wanita itu pun semakin lama semakin mendekati Rani, ia pun semakin lama semakin panik. "Pergi! Jangan mendekat aku tidak pernah mengganggu mu" Teriak Rani. Seketika ada yang menarik tangan Rani dari sebelah. Dari sisi luar, Andi dan Jonathan mendobrak pintu unit. Dan pintu pun terbuka. Andi dan Jonathan terkejut melihat Rani digandeng oleh sosok wanita. Mereka segera masuk ke unit, pintu tertutup sendiri. Mereka terjebak di dimensi lain, dimana ruangan unit berubah menjadi ruangan misterius. "Siapa kamu,mau kamu apakan adik ku" ucap Andi. "Adikmu akan menemaniku disini untuk selamanya.” Ucap sosok wanita itu. "Selama aku tinggal disini, tidak pernah melihat sosok ini ditempat ini.” Ucap Jonatan. Sosok wanita itu membawa Rani. Sepertinya Rani kehilangan kesadaran karena wanita itu menggandeng Rani. "Apa yang harus kita lakukan, Aku tidak mau kehilangan adikku." Jonathan pun memikirkan cara untuk menemukan Rani. "Kita harus mencari adikmu didalam dimensi ini." ucap Jonathan. "Apa? Yang benar saja, bagaimana caranya untuk menemukan adikku? Kita sama sekali belum mengenal tempat ini” Tanya Andi. "Hanya ada satu cara untuk menemukan adikmu. Kita akan terus berjalan sampai menemukan petunjuk." Ucap Jonathan. “Bagaimana bisa? Bagaimana jika tidak ada petunjuk? Dimensi ini seperti ruangan kuno.” Andi merasa bingung seakan tidak percaya jika ia dapat bertemu dengan Rani lagi. Setelah mencari di ruangan itu, Andi menemukan petunjuk berupa pisau berlumur darah tergeletak di lantai. Andi mengambil pisau itu dan menyimpannya di tas yang ia bawa. "Kita harus berhati hati dengan sosok wanita tersebut, pasti wanita itu ingin mencelakai kita, apapun yang terjadi tetaplah bersama.” Ucap Jonathan Tidak jauh dari pisau yang ditemukan, Andi melihat sebuah gulungan kertas tergeletak diatas meja. Andi dan Jonathan segera mengambil gulungan kertas itu. Jonathan membuka gulungan kertas, di dalamnya bertulis Apa kamu mau berteman dengan ku? Apa kamu menyukai ku? Aku sangat menyukaimu. Ternyata sosok wanita itu berada di dalam cermin. Mereka menoleh kea rah cermin, cermin itu seketika pecah. Lalu mereka memeriksa setiap pintu diruangan itu. DIMENSI LAIN 8 Saat berada di depan pintu kamar, Jonathan menemuka sebuah dompet berwarna pink tergeletak di lantai, sepertinya itu dompet sosok wanita itu sebelum meninggal. Andi mengambil dompet itu, Ia membuka isi dompet. Di dalam dompet ia melihat, foto wanita itu. Ternyata wanita itu bernama Nadia. Jonathan membuka pintu kamar. Di lantai kamar berserakan helai-helai rambut panjang. Ada bercak darah seperti terseret ke dalam lemari yang tertutup kain putih. Nadia si sosok wanita itu keluar dari lemari sambil menggenggam pisau berlumur darah. Andi dan Jonathan berbalik dan berlari. Lampu-lampu berkedip. Rani sendirian di lorong dimensi itu, terkepung pintu-pintu yang kembali tertutup. Di belakangnya utas-utas rambut berterbangan. Rani menyerukan nama kakaknya. Tidak ada satu pun jawaban. Satu pintu terbuka, itu adalah Andi dan Jonathan. Mereka berlari menghampiri Rani. Di belakangnya diikuti Nadia menggenggam pisau berlumur darah. Rambutnya terurai menutupi wajahnya. Bajunya tercoreng berlumur darah. “Ayo, cepat lari!” Andi menarik tangan Rani Mereka berlari kearah pintu unit. Mereka menarik gagang pintu dan keluar. Pintu unit tertutup sendiri. Mereka melangkah menuju unit milik Jonathan. Rani dibaringkan di lantai dekat kursi-kursi. Andi mengobati kaki Rani yang terluka seperti sayatan pisau. Jonathan menyeduh teh, lalu membawanya ke Rani. 9 Sejak kejadian itu, Rani terpaksa harus pindah dari apartemen itu ke apartemen lain. Mungkin Nadia tidak suka dengan kedatangan Rani dan Andi. Keesokan harinya, Rani dan Andi berkemas untuk mencari apartemen lain. Sebelum pindah, mereka mengucapkan terima kasih kepada Jonathan yang sudah membantu dalam kejadian yang menimpa semalam. “Selamat jalan” Ucap Jonathan sambil tersenyum. Hari ini Rani dan Andi meninggalkan apartemen itu, mereka mencari apartemen lain demi kenyamanan dan keselamatan nyawanya. Mereka pindah ke sebuah apartemen dengan bangunan yang tidak begitu besar, walaupun cukup jauh dari sekolah Rani dan tempat kerja Andi. Sepekan telah berlalu, semenjak Rani dan Andi pindah ke apartemen lain. Mereka tidak lagi merasakan hal aneh. Tidak ada suara tawa atau sesuatu yang aneh. Mereka merasa nyaman di apartemen yang ditempati sekarang. Mereka masih sering bertemu dengan Jonathan dan mengobroldi suatu tempat. PERGI

Januari 11, 2023

Petruk Dadi Kunir (Karya Aulia Imroatulatifa)

by , in

Judul Karya                : Petruk Dadi Kurir

Ukuran Karya             : 60x80 cm

Tahun Pembuatan       : 2022

Media                          : Acrilyc on Canvas 

Catatan: Sudah pernah dipamerkan pada Pameran Seni Rupa Sat-Set yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kabupaten Kulon Progo yang bekerjasama dengan Forum Seni Rupa Kulon Progo selama tanggal 23 Agustus sampai 1 September 2022 yang bertempat di Auditorium Taman Budaya Kulon Progo.

Januari 11, 2023

Ela dan Lia (Cerpen Karya Agustina Sinar Giyan Saputri)

by , in

 Ela dan Lia

Cerpen: Agustina Sinar Giyan Saputri (PGSD Kelas 1E)

    Namaku Ela, gadis 15 tahun. Anak tunggal dari sebuah keluarga sederhana yang tinggal di sebuah pedesaan yang jauh dari peradaban. Saat umurku menginjak 3 tahun, Ayahku meninggal karena sebuah kecelakaan. Aku tinggal bersama dengan Mama. Namun, aku merasa kurang diperhatikan dan selalu merasa sendiri. Aku bukan tipe anak yang mudah bergaul dengan orang lain. Bahkan bisa dibilang sulit mempunyai teman. Aku dikaruniai sebuah kemampuan bisa melihat apa yang kalian tidak bisa lihat yang pada awalnya aku tak menyadari itu.

    Ketika usiaku beranjak 5 tahun, aku melakukan sebuah kesalahan. Di sekolah, aku memukul temanku yang mengejekku “anak aneh”. Karena marah, aku reflek memukul wajahnya. Saat itulah sekolah memanggil Mama dan membawaku pulang. Karena Mama menilai tindakanku adalah tindakan yang sudah keterlaluan, Mama menghukumku dengan menempatkanku di loteng rumah yang minim cahaya dengan tujuan agar aku segera sadar akan kesalahanku dan tidak mengulanginya. Aku menangis sendiri di dalam loteng rumah. Saat itulah aku mendengar sebuah suara yang memanggilku.

    “Hey,” suara samar nan lembut itu menghentikan tangisanku. Aku takut dan malah semakin menangis dengan kencang.

     “Jangan menangis, aku tahu kamu sedang bersedih. Berhentilah menangis dan jadilah temanku mulai sekarang. Aku tak akan membiarkanmu menangis mulai sekarang dan siap menjadi pelindungmu,” suara itu kembali muncul.

    Aku yang ketakutan memberanikan diri untuk menelisik asal usul suara tersebut. Dengan berbekal keberanianku, aku membuka mata sembabku dan mulai mencari asal usul suara misterius tersebut. Setelah kucari, ternyata suara itu tepat berada di sampingku.

    Aku melihat seorang anak perempuan yang kira-kira umurnya tak jauh denganku saat itu. Wajahnya cantik dan manis. Ketakutanku pun sirna seketika.

    “Janganlah menangis dan tersenyumlah. Kau sangat jelek ketika sedang menangis,” katanya dengan nada mengejek.

    Akhirnya, aku memberanikan diri untuk bertanya kepadanya. “Kamu siapa?” tanyaku dengan penasaran.

    “Aku Lia.”

    “Aku Ela.”

    “Aku sudah tau. Hahaha,” sahutnya.

    “Bagaimana kamu tau? Darimana datangmu? Mengapa kau bisa berada di dalam loteng rumahku?”, tanyaku dengan penasaran.

    Namun Lia hanya memberi senyuman hangat kepadaku. Aku tak terlalu memedulikan hal itu. Aku memanggil Lia dengan sebutan “kakak” karena perawakannya yang lebih besar dariku.

    Paling tidak sekarang aku tidak lagi merasa kesepian dan menemukan teman baru. Dan begitulah akhirnya aku mendapatkan teman baru di sebuah loteng rumahku.

    Hari-hari selanjutnya, Lia selalu ada di sampingku benar-benar seperti penjagaku. Aku merasa telah menemukan teman yang cocok untuk berbicara denganku. Aku akhirnya mulai banyak berbicara dengannya, padahal aku termasuk anak yang tidak terlalu suka berbicara dengan orang lain. Aku bercerita banyak hal kepada Lia. Begitu pula sebaliknya.

    Mama yang melihatku pun merasakan adanya kejanggalan. Ia mengatakan bahwa aku kerap sekali berbicara dan tertawa sendiri. Aku menjelaskan bahwa aku sedang berbicara dan tertawa bersama kakakku. Mama merasa aneh dengan sikapku belakangan ini, juga karena aku mengatakan bahwa aku memiliki seorang kakak padahal aku adalah anak tunggal.

    Hari selanjutnya, Mama mendatangkan seorang psikiater dan memeriksakanku. Padahal aku merasa baik-baik saja namun bingung mengapa Mama memanggilkanku seorang psikiater. Kami bertiga duduk di meja makan. Saat itu, Lia sedang tidak berada di sampingku. Namun tak lama kemudian dia telah berada di sampingku dengan menarik kursi dan duduk di sebelahku. Aku sangat senang akhirnya Lia kembali di sampingku.

    Mama dan seorang psikiater tersebut bertatapan kebingungan. Karena yang dilihatnya hanyalah sebuah kursi yang bergerak sendiri. Mereka tidak dapat melihat Lia yang menggerakkan kursi tersebut. 

     Aku menjelaskan kepada mereka bahwa ada kakakku di sebelahku. Mereka masih tetap tak percaya. Karena tak mau masalah bertambah rumit, aku memutuskan pergi ke kamar saja bersama dengan Lia. Sementara Mama dan psikiater tersebut masih saling bicara.

    “Bu, sepertinya anak ibu ini adalah anak yang istimewa. Dia bisa melihat apa yang tidak bisa kita lihat,” kata psikiater.

    “Maksud Anda bagaimana ya?” tanya Mama dengan raut muka yang masih kebingungan.

    “Indigo. Itulah maksud saya. Ela dibekali kemampuan yang tidak semua orang bisa dapatkan. Saya berharap Anda dapat lebih memperhatikan Ela dan mulailah membangun hubungan yang erat dengannya. Saya sarankan Anda dan Ela menikmati quality time bersama. Itu demi kebaikannya. Saya permisi.” Kira-kira begitulah kata seorang psikiater tersebut dan pergi meninggalkan rumah kami.

    Aku sedang bermain di kamar bersama Lia. Tak lama kemudian, Mama masuk ke kamar dan berbicara denganku.

    “Ela, Bagaimana kalau kita berlibur berdua?” tanya Mama.

    “Mama kenapa? Biasanya tidak seperti ini. Kenapa tiba-tiba?” tanyaku. Biasanya Mama sering mengabaikanku. Namun sekarang, dengan tiba-tiba mengajakku berlibur berdua. Aneh.

    “Tidak apa-apa. Kita jarang sekali menikmati waktu bersama. Mama mempunyai ide untuk mengajakmu berlibur berdua bersama Mama. Juga agar hubungan kita dapat semakin dekat. Bagaimana?” pinta Mama kepadaku.

    “Baiklah, aku menurut saja,” jawabku mengiyakannya karena tak biasa menolak permintaannya.

    Begitulah akhirnya kami berlibur berdua. Sebenarnya tidak benar-benar berdua. Bertiga. Aku, Lia, dan Mama. Liburan yang asyik sekaligus menyenangkan.

    Hari-hariku kujalani dengan baik. Hubunganku dengan Mama makin membaik seperti orangtua dan anak yang seharusnya. Tahun-tahun berganti dan aku mulai bertumbuh menjadi gadis remaja. Aku kebingungan melihat Lia yang tidak bertumbuh menjadi lebih tinggi sepertiku. Jika kulihat-lihat, badannya masih sama seperti aku bertemu dengannya pertama kali. Padahal 10 tahun telah berlalu.

    Aku bertanya dengan Mama kenapa kakakku tidak bertumbuh sepertiku. Mama mengatakan bahwa besuk aku akan diberitahu hal yang sebenarnya. Seperti biasa, aku mengiyakan apa perkataan Mama. Keesokan harinya, setelah sekian lama akhirnya Mama membawa kembali orang yang dianggapnya bisa menyembuhkanku. Orang-orang menyebutnya “Mbah Karto”. Ia merupakan “orang pintar” yang direkomendasikan oleh teman Mama agar dapat menyembuhkan dan menyadarkanku. Seperti biasa, aku hanya menurut saja.

    Mbah Karto mendekatiku dan berkata kepadaku, “Nduk, Mbah akan memperlihatkanmu sesuatu yang sebenarnya kepadamu.” “Iya Mbah, saya menurut saja.” Seperti biasa, aku hanya menurut. Ditemani Lia, aku mengiyakan apa yang dikatakannya. Aku tak bisa mengerti apa yang diucapkan Mbah Karto. Kata Mama, Mbah Karto sedang membElakan doa dan mantra, aku hanya diminta untuk diam dan menunggu. Mbah Karto membElakan doa dan mantra menggunakan media air. Setelah selesai, Aku diminta untuk mendekat kepada Mbah Karto dan dibasuhnyalah wajahku menggunakan air yang telah didoakan dan diberi mantra olehnya.

    Setelah mukaku dibasuh, aku melihat Lia berlumuran darah. Pakaiannya lusuh berlumuran tanah dan darah. Kepalanya tidak lagi menyatu dengan tubuhnya. Bau anyir memenuhi seluruh ruangan di mana kami berada. Aku yang terlalu kaget akhirnya berteriak dan jatuh pingsan.

    Setelah aku siuman, ternyata Mama telah memutuskan untuk membeli rumah di sebuah perkotaan. Dan pada hari ini juga, Mama membawaku berpindah rumah dan meninggalkan rumah di pedesaan yang jauh dari peradaban ini. Dan sejak saat itu, aku tak dapat lagi melihat Lia.